Belakangan ini kembali beredar pesan berantai di berbagai grup WhatsApp, yang mengatasnamakan GoPay dan menawarkan saldo gratis hingga Rp500.000.
Pesannya sih memang terlihat meyakinkan, lengkap dengan tautan yang diklaim sebagai halaman resmi. Padahal, hampir bisa dipastikan informasi semacam ini adalah hoaks.
Kurang lebih ini isi pesannya.
GoPay lagi bagi saldo Rp500.000! 🎉
Tadi aku cek, masih bisa.
Tinggal masukin nomor HP di sini 👇
https://gopay10.owxk.top/?bagi-saldo=35
Mari, saya coba sampaikan suatu pengetahuan agar kita tidak termakan hoaks semacam ini lagi.
Perhatikan Domainnya
Lihat alamatnya baik-baik. Domain seperti gopay10.owxk.top sudah bisa jadi peringatan awal.
Perusahaan resmi seperti GoPay biasanya pakai domain utama mereka, seperti GoPay dalam hal ini adalah gopay.co.id .
Domain aneh seperti yang tadi itu, panjang, dan random biasanya dipakai untuk mengelabui. Di dunia keamanan cyber, ini dikenal sebagai teknik phishing.
Tinjau Jalur Penyampaian Informasi
Promo resmi dari layanan keuangan digital seperti GoPay ini hampir selalu diumumkan melalui aplikasi resminya, situs web resmi, atau kanal media sosial terverifikasi milik mereka.
Penyebaran informasi melalui pesan berantai WhatsApp bukanlah mekanisme yang lazim digunakan oleh perusahaan besar, terutama untuk program gedean seperti ini. Maka, sudah barangtentu ini adalah hoaks.
Gunakan Logika Kita
Rp500.000 bukan angka kecil, lho. Jika dibagikan secara masif dengan cara yang sederhana, rasanya sulit untuk dipercaya menurut saya.
Coba kita bayangkan saja, GoPay dengan mudahnya membagikan uang dengan jumlah segitu, cuma dengan syarat yang sederhana, saya jamin 2 hari kemudian GoPay bangkrut.
Siapa sih yang tidak mau mendapatkan uang sebanyak itu dengan gampang, secara cuma-cuma? Pasti banyak yang mau. Uang sebanyak itu GoPay mau bagikan, nggak mungkin lah nggak mungkiiiiiiiiin.
Tapi Teman Saya Memang Berhasil Dapat Tuh
Saya juga mendapat informasi, memang ada yang benar-benar merasa dapat saldo Rp500.000 dari link tersebut.
Saldo masuk, jumlahnya juga benar, namaun hal yang mengejutkan terjadi.
Beberapa waktu setelahnya, orang ini melakukan top up GoPay seperti biasa. Tapi, Tidak lama kemudian, saldo di akunnya raib. Bukan cuma saldo hasil hadiah, tapi juga saldo dari top up barusan, katanya.
Akunnya memang masih bisa dibuka, tapi isinya nol. Bingung, panik, dan tentu saja Dia menyesal. Kasihan, sih.
Tapi dalam kasus eperti ini, kadang orang-orang yang sudah terlanjur tergiur sangat bebal untuk dinasihati. Makanya, memang cara yang terbaik, biarkan dia membuktikan sendiri.
Kalau dipikir pelan-pelan, Link semacam itu biasanya bukan cuma minta nomor HP. Ada proses di belakang layar yang tanpa disadari memberi celah ke pihak lain untuk “megang” akun. Entah lewat izin tertentu, entah lewat data yang kelihatannya sepele, tapi krusial.
Modusnya memang sengaja dibuat halus, dia tidak langsung mencuri.
Dia kasih umpan dulu. Bikin korban percaya. Setelah korban lengah, baru saldo disikat, biasanya justru setelah ada uang baru masuk.
Secara psikologis ini cerdas, walau jelas licik.
Waspadai Permintaan Data Pribadi
Ada Banyak tautan palsu bertujuan mengumpulkan data pengguna, seperti nomor telepon, kode OTP, atau informasi akun lainnya.
Data tersebut dapat disalahgunakan untuk penipuan lanjutan, pengambilalihan akun untuk mengambil saldo GoPay seperti kasus tadi, atau penyalahgunaan identitas digital.
Yang lebih mengerikannya lagi, data itu berpeluang dijual ke DarkWeb. Hiiii.
Putus Rantai Penyebaran
Jika menemukan pesan semacam ini, sebaiknya tidak langsung diteruskan. Coba Verifikasi terlebih dahulu melalui cara-cara sederhana tadi.
Jika kita sudah yakin ini adalah hoaks, beri mereka peringatan yang menyebarkan informasi hoaks tersebut.
Jika peringatan secara edukatif tidak bisa kita tempuh, dan kebetulan kita adalah admin grup, keluarkan saja dari Grup WA. Beres.
Atau ancam kalau menyebarkan lagi, kita report akun WhatsApp nya rame-rame, agar tidak bisa menggunakan WA lagi dengan nomor yang sama.
Mari Kuasai Literasi Digital
Disini lah, menurut saya, kemampuan literasi digital dibutuhkan. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dalam menilai informasi.
Membiasakan diri untuk mengecek sumber, menilai kewajaran, dan memahami konteks informasi yang tersaji akan sangat membantu dalam menghindari penipuan digital.
Yuk sama sama cerdas, di tengah arus informasi yang begitu cepat, kehati-hatian adalah kunci.
Tak semua yang terlihat menguntungkan benar-benar aman. Berpikir jernih dan tidak tergesa-gesa jauh lebih bernilai daripada tergiur oleh janji instan.
Tinggalkan Balasan