Beberapa waktu terakhir, Udah agak lama juga, sih.
Saya sering menemukan suatu pola yang berulang. Banyak orang menyebut dirinya tidak percaya diri, atau Insecure, atau mentalnya belum siap.
Tapi setelah diamati lebih dalam, yang terjadi kadang bukan selalu soal mental yang rapuh.
Kadang, itu adalah soal kemalasan yang dibungkus rapi dengan istilah psikologis.
Di sinilah batas antara mindset block dan kurangnya rasa percaya diri menjadi samar, bahkan sering tertukar.
Padahal, keduanya berbeda secara mendasar.
Apa Itu Insecure
Kurangnya rasa percaya diri atau insecure berangkat dari persoalan mental dan emosional.
Orang dengan kondisi ini sebenarnya punya keinginan untuk maju, tampil, atau berkembang, tapi tertahan oleh rasa takut.
Takut dinilai oleh orang lain, takut salah, takut ditertawakan, takut gagal, and so on and so on.
Sebagai contoh misalnya Ketika harus berbicara di depan publik, tubuhnya bisa gemetar, pikirannya kosong, jantung berdebar, dan ia merasa tidak cukup layak.
Namun di balik semua itu, ada satu hal penting: ia ingin bisa, tapi belum mampu.
Insecure itu bentuk kelemahan mental, bukan kelemahan niat. Dan ini manusiawi, kok.
Banyak orang hebat sekelas MC , pembicara atau penceramah pun pasti pernah mengalaminya, dan itu wajar, kan.
Bahkan juga mungkin, sampai hari ini, tidak sedikit yang masih bergelut dengan rasa semacam itu, tapi tetap berusaha melangkah.
Apa Itu Minset Block
Mindset block bukan soal takut, tapi soal enggan. Bukan soal mental yang tidak kuat, tapi kemauan yang tidak mau dipaksa.
Orang dengan mindset block seperti ini sering kali menggunakan narasi mental untuk menutupi sikap pasifnya. Kalimatnya terdengar familier
saya belum siap, saya nggak pede, saya bukan tipe orang kayak gitu, saya takut salah.
Tapi jika ditelusuri, orang seperti ini biasanya cenderung tidak ada upaya nyata untuk belajar, berlatih, atau mencoba.
Yang ada justru penolakan halus terhadap proses.
Mindset block bekerja di level pikiran manusia. Ia menutup kemungkinan sebelum usaha dimulai.
Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mau keluar dari zona nyaman.
Dan yang lebih berbahaya, mindset block sering menyamar sebagai kerendahan hati atau luka batin, padahal sejatinya adalah bentuk pembenaran diri agar tetap diam di tempat.
Di sinilah sering terjadi kekeliruan besar. Insecure dan mindset block disatukan, lalu diperlakukan sama. Padahal dampaknya berbeda.
Orang yang insecure butuh dukungan, latihan bertahap, dan ruang aman untuk tumbuh.
Sementara orang dengan mindset block butuh kejujuran pada diri sendiri. Bukan disuapin, atau ditolong terus, tapi ditampar keras kalo bisa hehehe,
eh jangan deng, halus saja,
dengan kesadaran, kamu itu apakah benar-benar tidak mampu, atau memang malas berproses?
Insecure biasanya disertai usaha kecil, meski tertatih-tatih.
Mindset block itu biasanya minim usaha, tapi banyak alasan.
Orang yang insecure mungkin berkata, “Aku grogi, tapi aku mau coba.”
Sementara Orang dengan mindset block berkata, “Aku memang nggak bisa,” lalu berhenti di situ.
Perbedaannya tipis di permukaannya, tapi jauh apabila kita coba selami.
Yang satu masih bergerak, yang lain sudah mengunci pintu sejak awal.
Ini penting dibahas saya kkira, supaya kita tidak salah mengenali diri sendiri.
Jangan sampai kemalasan diberi nama luka, dan ketakutan diberi pembenaran sebagai takdir.
Kebalik itu namanya, yaa.
Tidak semua yang merasa tidak percaya diri perlu dimaklumi terus, dan tidak semua yang menghindar sedang terluka.
Kadang, yang kita butuhkan bukan validasi, tapi keberanian untuk jujur. Jujur bahwa kita takut, atau jujur bahwa kita malas.
Karena hanya dengan kejujuran itu, kita bisa tahu: apakah kita perlu dikuatkan, atau justru perlu dipaksa bergerak.
Dan dari situ, perubahan baru mungkin terjadi.
Tinggalkan Balasan