Kenapa Awal Ramadhan Sering Berbeda? Gus Baha Jelaskan Hisab dan Rukyat Secara Ilmiah

Bagikan ke

Belakangan ini potongan video Gus Baha tentang hisab dan rukyah sempat mampir di beranda TikTok saya, dan menarik sekali melihat betapa jernih cara beliau menjelaskan persoalan yang selama ini sering membuat umat Islam berdebat.

Apa metode yang benar untuk menentukan awal bulan ibadah seperti Ramadhan?

Menurut Gus Baha, baik rukyah (melihat hilal secara nyata) maupun hisab (perhitungan astronomis), keduanya adalah metode yang dibahas dalam Alqur’an dan tradisi ulama.

Beliau menekankan bahwa yang perlu kita lakukan bukanlah debat tanpa ujung, tetapi memahami bahwa keduanya punya tempat dan landasan keilmuan masing-masing.

Gus Baha bahkan secara tegas mengatakan bahwa hisab itu tidak hanya boleh, tetapi dibolehkan secara syariat apabila dilakukan dengan perhitungan ilmiah dan konsensus para ahli falak.

Saya pribadi setuju dengan pendapat beliau. Mengapa? Karena hisab bukan sekadar angka atau itung-itungan abstrak, tapi hasil dari ilmu astronomi yang telah berkembang selama berabad-abad.

Bahkan perhitungan terkait fenomena seperti gerhana matahari dan gerhana bulan pun dilakukan dengan hisab, bukan dengan menunggu melihatnya secara langsung di langit.

Baca juga:  Ketika Simbol Fiksi Jadi Nyata, Kenapa Harus Takut Dengan Bendera OnePiece?

Kalau kita menolak metode hisab, pertanyaannya sederhana:

dari mana kita tahu dua hari lagi akan terjadi gerhana, jika bukan dari hasil perhitungan ilmiah (hisab)?

Tidak ada orang yang menunggu matahari atau bulan terlihat gaya gerhananya dulu, bukan?

Darimana kita dapat memprediksi atau memperkirakan jam 12 itu adzan dzuhur, dan jam 6 sore itu adzan Maghrib, di Indonesia, khususnya, kalo bukan dari ilmu hisab?

Secara astronomi, waktu salat ditentukan oleh posisi Matahari terhadap horizon suatu tempat. katakan lah dzuhur, Dzuhur dimulai saat Matahari melewati titik kulminasi atas, yaitu ketika ia tepat berada di meridian lokal, posisi tertinggi hari itu. Itu yang disebut zawal.

Rata-rata dari kita melihatnya dari jam, kan, bukan lihat dari matahari?

Bahkan sekarang di Masjid ada Alarm yang otomatis bunyi ketika waktu solat tiba. Jarang yang melihat langsung, mengamati posisi matahari. Apa lagi cuaca tak bersahabat, bagaimana mengamatinya?

Baca juga:  Layak Kah Pak Harto Jadi Pahlawan Nasional? Ayo Coba Kita Jujur

Nah, Itu semua sudah terukur melalui hisab astronomi. Maka jika hisab bisa menjawab fenomena semacam itu, kenapa ia tidak boleh dipakai untuk menentukan awal bulan ibadah seperti Ramadhan?

Itu sebabnya Gus Baha mengingatkan agar kita tidak mengkotak-kotakkan rukyah sebagai yang benar mutlak, dan hisab sebagai yang salah mutlak.

Menurut beliau, kedua metode itu merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam, dan yang penting adalah bagaimana kita memahami keduanya berdasarkan dalil, ilmu, dan tujuan syariat.

Lebih jauh lagi, beliau juga mengkritisi stigma bahwa satu kelompok hanya rukyah dan satu kelompok hanya hisab karena pandangan semacam itu justru membatasi pemahaman keilmuan umat.

Ini ilmu Dari Gusti Allah kok, menurut beliau. Dan saya sepakat.

Kalau kita renungkan lebih jernih, hisab menawarkan kepastian yang sangat bermanfaat, tidak ada lagi kegelisahan menunggu hilal, tidak ada kebingungan berkumpul di bawah langit malam sambil mencari bulan sabit, dan masyarakat bisa merencanakan kehidupan ibadah dan aktivitas sosialnya jauh lebih awal.

Baca juga:  Pati Memanas, Berawal Dari Kenaikan Pajak Hingga Tantangan Kepada Rakyat

Ini bukan ide modern yang meremehkan syariat, tapi justru menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari tawakal kepada Allah — tawakal yang tidak gagap terhadap ilmu.

Singkatnya, menurut saya:

Dengan cara berpikir yang sejuk dan terbuka seperti ini, kita tidak hanya menjaga ukhuwah, tetapi juga menghormati tradisi ulama yang telah berjuang membumikan Islam dengan akal sehat dan hikmah.

Bagikan ke
Avatar Dwi Citolaksono
Seseorang yang gemar menulis di blog, sekedar menulis opini atau mengurai makna dengan kata. Mahasiswa S-1 Pendidikan luar biasa di salahsatu universitas di Bandung, yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Memiliki kepedulian kepada disabilitas netra, dan memiliki ketertarikan terhadap teknologi

Diterbitkan

dalam

,

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe Newsletter Via WhatsApp

Masukkan nama lengkap anda dan nomor WhatsApp aktif untuk menerima pemberitahuan postingan terbaru, yang akan secara langsung saya kirim kan via WhatsApp