Sebagai tunanetra, ada satu hal yang menurut saya tidak bisa ditawar lagi di zaman sekarang.
Kita wajib paham dan mampu mengoperasikan alat-alat teknologi, baik sebagai penunjang pembelajaran, maupun untuk keperluan sehari-hari.
Bukan sekedar bisa, tapi benar-benar menguasainya.
Saya bicara ini bukan tanpa alasan, ya.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya benar-benar merasakan sendiri betapa fatalnya kalau sampai nggak bisa mengoperasikan laptop. Bayangkan saja, kalau saya nggak bisa menulis di Microsoft Word, Microsoft Word acan, udah deh, berantakan semuanya.
Skripsi, revisi, dokumen administrasi kampus, semuanya berbasis laptop. Nggak ada ruang buat “nanti aja belajarnya”, karena tuntutan akademik nggak akan menunggu kita siap.
Ada dua hal utama yang menurut saya jadi fondasi yang wajib dipelajari bagi kita sebagai tunanetra.
Kemampuan Mengoperasikan Handphone dengan Screen Reader
Handphone sudah jadi alat sehari-hari yang nggak bisa lepas dari hidup kita. Tapi, mengoperasikan handphone itu bukan cuma sebatas bisa buka WhatsApp atau tiktok saja, lho.
Lebih dari itu, ada efisiensi yang harus kita kejar, supaya handphone kita benar-benar bermanfaat maksimal, dan yang paling penting, mengurangi ketergantungan kita terhadap orang lain.
Bayangkan, berapa banyak hal yang sebenarnya bisa kita selesaikan sendiri kalau kita benar-benar menguasai screen reader di handphone kita.
transfer uang lewat m-banking, baca dan balas email penting, cari informasi di google, sampai urusan administrasi yang dulu kita pikir cuma bisa dibantu orang lain.
Itu semua soal penguasaan alat, bukan soal keterbatasan kita.
Kemampuan Mengoperasikan Komputer dengan Pembaca Layar Seperti NVDA
Nah, ini yang bikin saya sedih sebenarnya.
Masih ada saja tunanetra yang untuk sekadar menempel dokumen dalam bentuk file Microsoft Word saja, harus dibantu orang lain.
Ironisnya, yang seperti ini justru kadang yang punya kemampuan secara materil untuk belajar, tapi nggak dipergunakan.
Kalah, dengan mereka yang laptopnya lemot, tapi semangat belajarnya ada.
Komputer atau laptop itu wajib kita kuasai sebagai seorang tunanetra, menggunakan screen reader seperti NVDA.
Terlebih lagi buat mahasiswa. Apalagi yang punya cita-cita jadi profesor, masa iya profesor nggak bisa mengoperasikan laptop?
Tapi, “bisa” saja juga belum cukup. Tanpa kita terapkan ilmunya, tanpa kita eksplorasi lebih mendalam, kemampuan itu nggak akan pernah berkembang.
Soal kerapihan dokumen, semisal layout atau formatting yang rumit, itu lain cerita, ya. Itu masih wajar kalau sesekali kita minta bantuan abang-abangan fotocopy, toh yang awas saja banyak yang masih begitu juga.
Tapi yang saya maksud di sini adalah kemampuan dasar mengoperasikan laptopnya itu sendiri, navigasi, mengetik, membuka dan menyimpan file, itu yang nggak boleh kita serahkan terus-menerus ke orang lain.
Kalau memang belum ada waktu, atau memang belum bisa, ikuti saja pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan berbagai yayasan, ormas tunanetra, atau lembaga lainnya.
Banyak, kok, pilihannya:
- Mitra Netra, sudah sejak sekitar tahun 2000-an menyelenggarakan pelatihan komputer bagi tunanetra.
- Bimbel Lentera Inklusif, dengan banyak program pelatihan yang bisa diikuti.
- Ormas seperti ITMI atau Pertuni, yang juga rutin menyelenggarakan pelatihan serupa.
Ikuti saja. Mumpung gratis, sebelum mereka berubah pikiran dibikin jadi berbayar, hehe. 😄
Penutup
Pada akhirnya, teknologi itu bukan sekadar alat tambahan buat kita sebagai tunanetra, tapi jembatan menuju kemandirian.
Setiap fitur yang kita kuasai di handphone, setiap shortcut yang kita hafal di NVDA, itu artinya satu langkah lebih dekat ke kehidupan yang lebih mandiri, lebih sedikit bergantung pada orang lain.
Jangan tunggu sampai keadaan memaksa kita baru mau belajar. Mumpung ada kesempatan, mumpung ada pelatihan gratis, mumpung masih ada semangat, manfaatkan sebaik-baiknya.
Karena percuma punya laptop canggih, kalau kita sendiri nggak mau menguasainya.
Percuma punya gagasan keren, tanpa kita bisa menulisnya.
Tinggalkan Balasan