Refleksi Dua Karakter Manusia dalam Menerima Kritik, Belajar dari Pengalaman Nyata

Bagikan ke

Assalamu’alaykum. Halo, semua. Yuk baca sampe selesai yaa, saya mau mengajak pembaca untuk sama-sama belajar suatu hal, yang direfleksikan dari pengalaman saya tentang dua karakter manusia yang berbeda.

Disclaimer:

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membicarakan orang lain, ya. Akantetapi ini sebagai pembelajaran bagi kita, tentang 2 karakter manusia yang berbeda, dan dampaknya secara nyata bagi dirinya, dan bagi orang-orang disekitarnya.

Tujuannya, apabila karakter itu tidak baik, kita dapat belajar, walau perlahan, untuk merubahnya.

Alkisah, kala itu saya sedang mengkoreksi teman saya diorganisasi, karena dia melakukan suatu kekeliruan. Saya juga menjunjung tinggi adab, saya panggil dia secara private lah kala itu kami bicara.

Meski, orang tersebut merupakan orang yang juga sering berinteraksi dengan saya, tapi saya berusaha agar tidak langgar etika disitu.

Singkatnya cerita, Saya berikan catatan dimana saja kekeliruannya, saya juga sampaikan, kalau kamu punya argumen lain, boleh kok kamu sampaikan saja.

Tapi, saya dibuat terkejut setelah saya selesai berbicara. Alih-alih dia merespon dengan argumennya, dia malah naik pitam, tampaknya dia tidak terima saya koreksi.

Coba lihat apa kata-katanya.

Ih apaan sih, perasaan aku tuh salah aja ya dimata kamu sebagai pimpinan disini. Iya deh, emang aku salah, aku gak segala bisa kayak kamu

Degggg… Saya kaget, dong. Disitu, jatuhnya saya jadi merasa bersalah karena sudah mengkoreksinya. Tapi, koreksi ini saya sampaikan semata-mata karena ingin mengarahkan dia, kok. sama sekali tidak ada keinginan untuk menjatuhkannya.

Ok, kita beralih dengan karakter indifidu yang berlainan dengan karakter tadi. Pada lain situasi, saya juga sama mengkoreksi seseorang. Tapi, ini tidak sengaja, dan konteksnya bukan diorganisasi.

Baca juga:  Sering Salah Kaprah, Ini Perbedaan Insecure Dan Mindset Block

Tidak sengajanya karena apa, karena dia bahkan minta dikoreksi terlebihdahulu. Coba, lihat apa katanya. Jadi, saya tidak meminta waktunya untuk saya koreksi.

Cito, aku salah tidak ya kaya gini. Ayo dong koreksi aku, masa Cito membenarkan apa kataku terus, sih? Sesekali kita perlu dong, berantem tapi huat kebaikan, adu argumen atau saling mengkoreksi.

Karena didesak sekian lamanya, akhirnya saya mau mengkoreksinya. Saya mau memberikannya sebiah catatan kecil.

Sekarang, coba lihat, apa katanya setelah saya koreksi atas tindakannya yang keliru itu.

Terima kasih sudah diingatkan dan dikoreksi. Berharga sekali buat aku, terima kasih banyak yaa Cito.

Yuk, coba kita bedah per karakter yang pernah saya temui ini.

Karakter Pertama

Nah, Karakter yang pertama ini adalah menurut saya, tipe individu yang tampak mengalah, tetapi sejatinya sedang bertahan.

Dalam psikologi sosial, pola ini sering dibaca sebagai defensive self presentation.

Dia memang tidak membantah ya, tidak menyusun argumen juga untuk mendebat, tapi dia memilih jalan emosional dengan menyalahkan diri secara berlebihan.
Kalimat seperti:

Ih apaan sih, perasaan aku tuh salah aja ya dimata kamu sebagai pimpinan disini. Iya deh, emang aku salah, aku gak segala bisa kayak kamu

memang, terdengar rendah hati sih, padahal di balik itu semua ada mekanisme ego defense.

Disitu dia sedang melindungi harga dirinya dari rasa malu, rasa kekalahan, atau rasa tidak kompeten.

Alih-alih dia berdialog, dia lebih suka menutup diskusi dengan cara menebar drama emosional yang buat saya, ih, gak banget dehhhh. Hihihi.

Nah, Ini juga dekat dengan konsep emotional reasoning, ketika emosi dijadikan dasar kebenaran.

Baca juga:  Kenapa Awal Ramadhan Sering Berbeda? Gus Baha Jelaskan Hisab dan Rukyat Secara Ilmiah

Karena merasa tersakiti, maka koreksi dianggap salah. Dampaknya bukan hanya menghentikan proses belajar, tapi juga menciptakan ketegangan sosial.

Olehnya, Orang di sekitarnya dibuat serba salah, mau melanjutkan diskusi takut dianggap menekan, mau diam tapi masalah tidak selesai. Dan, itu yang saya rasakan.

Sering nggak tuh nemu orang kayak begini? Jika menemukan atau bahkan sedang berhadapan dengan orang seperti ini, saran saya jangan kalian terpaku pada rasa bersalah karena sudah mengkoreksi dan membuka dialog dengan dia.

Karena, beberapa orang, melakukan cara itu sebagai bentuk pertahanan, agar orang tidak melanjutkan obrolan itu dengannya.

Dalam psikologi sosial, ini dekat dengan mekanisme guilt induction, upaya memancing rasa bersalah orang lain agar posisi diskusi berubah.

Bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal siapa yang terlihat paling tersakiti.

Ketika seseorang merespon koreksi atau kritik dengan menyalahkan diri secara ekstrim, suasana diskusi otomatis langsung bergeser.

Fokus tidak lagi pada substansi kesalahan, melainkan pada emosi. Orang yang mengkoreksi akhirnya mundur teratur, bukan karena argumennya keliru, tapi karena nggak tega.

Di titik ini, rasa bersalah dia tekan, dan berfungsi seperti rem tangan darurat. Diskusi berhenti, konflik selesai secara semu, tapi akar masalah tetap utuh.

Ufff, ngeri gak, coba? Salah-salah kita bisa dianggap sedang melakukan buli terhadapnya.

Tapi tidak semua ya, ada juga yang memang punya latar belakang mental yang tidak kuat. Nah kalo begitu keadaanya, sebaiknya jangan dilanjut.

Nah karakter seperti ini biasanya tumbuh dalam lingkungan sosial yang minim budaya dialog. Kritik dianggap serangan, koreksi dipersepsikan sebagai penghinaan, and so on.

Dalam jangka panjang, tipe orang kayak gini rawan terjebak dalam fixed mindset sosial, merasa dirinya “memang segini-gini saja” dan menutup kemungkinan berkembang. Ironisnya, ia tampak paling menderita, karena konflik terbesarnya justru terjadi di dalam dirinya sendiri.

Baca juga:  PTN VS PTS, Gengsi Atau Pilihan Rasional?

Ngeri gak, tuh?

Karakter Kedua

Nah, berbeda jauh dengan karakter kedua, dia ini menurut saya adalah individu yang secara sadar membuka diri terhadap koreksi.

Dalam psikologi sosial, ia menunjukkan self awareness interpersonal, kemampuan membaca diri sendiri dalam relasi dengan orang lain.

DIa tidak alergi dengan kesalahan, karena kesalahan tidak ia anggap sebagai ancaman identitas.

Inilah ciri secure self concept, konsep diri yang relatif stabil.

Ketika dikoreksi, yang disentuh hanyalah perilaku atau gagasan, bukan harga dirinya.

Maka respon yang muncul bukan emosi defensif, melainkan rasa ingin tahu.

Karakter ini juga memperlihatkan growth oriented interaction, yakni kecenderungan menjadikan relasi sosial sebagai ruang belajar, bukan arena pembuktian.

Dia berani mengundang perbedaan, bahkan konflik sehat, karena paham bahwa kebenaran sering lahir dari gesekan ide. Orang seperti ini biasanya menyenangkan untuk diajak berdiskusi, bukan karena selalu sepakat, tapi karena dia bisa merasa aman walau tidak sepakat.

Orang kayak gini tahu kapan harus bertahan, kapan harus mengalah, dan kapan harus belajar.

Tapi jika dua karakter ini coba kita pertemukan, dampaknya sangat kontras. Karakter pertama cenderung melelahkan lingkungan sosialnya, sementara karakter kedua justru menumbuhkan lingkungan dimana dia berada.

Yang satu membekukan dialog, yang lain menghidupkannya.

Bagikan ke
Avatar Dwi Citolaksono
Seseorang yang gemar menulis di blog, sekedar menulis opini atau mengurai makna dengan kata. Mahasiswa S-1 Pendidikan luar biasa di salahsatu universitas di Bandung, yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Memiliki kepedulian kepada disabilitas netra, dan memiliki ketertarikan terhadap teknologi

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe Newsletter Via WhatsApp

Masukkan nama lengkap anda dan nomor WhatsApp aktif untuk menerima pemberitahuan postingan terbaru, yang akan secara langsung saya kirim kan via WhatsApp