Caruban, Saksi Perjalanan Bersama Kecemasan

Bagikan ke

Ceritanya sekitar awal desember, saya membuka Grup WA yang bejibun itu. Perlahan-lahan, saya baca setiap informasi yang hadir, dan setiap pengumuman yang terpampang di layar gawai. Emhm, biasa saja, tidak ada informasi aneh.

Hingga, saya berhenti untuk membaca sejenak sebuah informasi kegiatan yang membuat saya tertarik. Ya, kegiatan perayaan tahun baru yang bukan perayaan. Lebih tepatnya, ini kegiatan adalah Dakwah. Ajakan bagi semua, menikmati tahun baru bukan dengan hura-hura, melainkan dengan solawat dan Dzikir.

Tepat… Ini adalah kegiatan malam cinta Rasul, yang di selenggarakan oleh Al Bahjah dibawah asuhan guru Mulya Buya Yahya, bekerjasama dengan Masjid Raya At-Taqwa kota Cirebon.

Sebuah kegiatan mengenang Baginda Nabi Muhammad, dikala orang lain sibuk menikmati dunia, dimalam yang disebut malam tahun baru. Tanpa pikir panjang, segera saya mantapkan hati, luruskan niat guna menghadiri acara tersebut. Sendiri, ya, sendirian. Karena saya suka dengan kesendirian guys, hehehe

Malam sebelum tanggal 31 Desember itu, saya tidak ke mana-mana, tapi pikiran saya sudah pergi jauh. Karena saya berangkat sendiri, kecemasan datang tanpa diundang.

Semalaman saya OVT alias Over Thinking. Pikiran saya terus menerus memproduksi skenario demi skenario buruk. Gimana kalo di jalan saya dibegal? Gimana kalo salah naik angkutan terus disasarin? Gimana kalo ada orang yang berniat jahat dan saya tidak punya siapa-siapa untuk bergantung, saudara ada juga jauh.

Baca juga:  Sering Salah Kaprah, Ini Perbedaan Insecure Dan Mindset Block

Tubuh ingin istirahat, tapi kepala seperti merasa wajib berjaga.

Apa pun alasannya, Pagi harinya saya tetap berangkat. Kereta berjalan normal, saya tiba di Cirebon sesuai jadwal, disambut hujan yang turun perlahan, menghempas atap setasiun yang megah itu.

Secara kasat mata, memang ya, tidak ada yang salah. Tapi rasa cemas belum sepenuhnya hilang. Ketika saya memesan ojek online untuk menuju tempat makan, tiba-tiba drivernya meminta agar pesanan dibatalkan dan dia ingin offline saja. Seketika pikiran saya meloncat jauh.

Jangan-jangan ini modus. Jangan-jangan saya mau diculik? Padahal setelah saya sadari, jarak stasiun ke lokasi tempat saya mau makan ternyata dekat. Kemungkinan besar ongkosnya kecil dan drivernya malas jalan.

Akhirnya, itu semua tidak terbukti, kan? Situasi selesai, tidak ada drama, tidak ada bahaya. Yang ada hanya pikiran saya yang bekerja terlalu jauh. Kata orang cirebon sih (kadohen jeh)

Baca juga:  Mengenal Kesenian Wangsalan, Sebuah Kesenian Dari Caruban

Dari pengalaman itu, saya baru benar-benar merasakan bagaimana kecemasan bekerja. Itu lah yang dinamakan Anxiety.

Anxiety bukan selalu soal peristiwa nyata, tapi tentang bagaimana otak memprediksi masa depan secara berlebihan. Ia adalah mekanisme alami manusia untuk bertahan hidup, sistem alarm bawaan yang seharusnya aktif ketika ada ancaman.

Masalahnya, pada beberapa orang, walau sebenernya Gen Z sekarang banyak yang mengalami itu katanya. Alarm ini menyala terlalu sensitif. Ancaman belum tentu ada, tapi tubuh dan pikiran sudah bereaksi seolah-olah bahaya sedang mengintai.

Kecemasan berlebih biasanya muncul dalam bentuk overthinking, sulit tidur, rasa waswas yang tidak jelas sumbernya, dan kecenderungan menarik kesimpulan paling buruk dari situasi netral. Secara teori psikologi, ini dikenal sebagai cognitive distortion, pola pikir yang membesar-besarkan risiko dan mengecilkan kemampuan diri untuk mengatasinya.

Otak lebih sibuk membayangkan “bagaimana jika” ketimbang membaca apa yang benar-benar terjadi di depan mata.

Nah ini Dampaknya tidak ringan sebetulnya. Kecemasan bisa membuat seseorang ragu melangkah, takut mencoba hal baru, dan kehilangan kenikmatan dari pengalaman yang seharusnya bermakna. Dalam konteks perjalanan saya, kecemasan hampir menggeser tujuan utama. Perjalanan spiritual dan liburan pribadi nyaris berubah menjadi beban mental, bukan ruang jeda untuk menenangkan diri.

Baca juga:  Refleksi Dua Karakter Manusia dalam Menerima Kritik, Belajar dari Pengalaman Nyata

Yang sering luput disadari, kecemasan kerap menyamar sebagai kehati-hatian. Ia berbicara dengan bahasa logis, seolah rasional, padahal yang bekerja adalah ketakutan yang belum diuji. Bedanya tipis, tapi dampaknya besar. Kehati-hatian membaca risiko yang nyata, sementara kecemasan menciptakan risiko di kepala, lalu memaksanya terasa nyata.

Pengalaman itu tidak serta-merta menghilangkan kecemasan saya. Tapi ia memberi pelajaran penting, bahwa tidak semua pikiran layak diikuti, dan tidak semua ketakutan pantas dipercaya. Kadang, cara paling jujur menghadapi anxiety bukan dengan menunggu pikiran tenang, melainkan tetap melangkah sambil membiarkan realitas perlahan meluruskan asumsi. Karena sering kali, dunia nyata jauh lebih tenang daripada yang dibisikkan kecemasan di kepala kita sendiri.

Muncul sebuah tanda tanya besar sekarang bagi saya. Apa kah, ini sebuah indikasi bahwa saya mempunyai Anxiety disorder?

Bagikan ke
Avatar Dwi Citolaksono
Seseorang yang gemar menulis di blog, sekedar menulis opini atau mengurai makna dengan kata. Mahasiswa S-1 Pendidikan luar biasa di salahsatu universitas di Bandung, yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Memiliki kepedulian kepada disabilitas netra, dan memiliki ketertarikan terhadap teknologi

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe Newsletter Via WhatsApp

Masukkan nama lengkap anda dan nomor WhatsApp aktif untuk menerima pemberitahuan postingan terbaru, yang akan secara langsung saya kirim kan via WhatsApp