Di banyak lingkungan perguruan tinggi hari ini, AI diperlakukan seperti sesuatu yang menakutkan. Ia dibicarakan, ditakuti, dicurigai, tapi jarang benar-benar ada yang memahami.
Mahasiswa yang menulis karya ilmiah mulai hidup dalam bayang-bayang tuduhan dan ketakutan. Bukan karena karyanya salah, bukan karena datanya keliru, tapi karena kalimatnya jika terlalu rapi, terlalu sistematis, disitu lah indikasi ditulis dengan AI.
Ironinya, alat yang dipakai untuk menuduh, yakni AI detector, sendiri belum pernah benar-benar matang. Karya yang ditulis dengan keringat, dengan membaca, dengan berpikir, bisa tetap dituding sebagai hasil mesin.
sebagai studi kasus, seorang konten kreator Tiktok pernah menunjukan betapa AI detector tidak berfungsi dengan baik. Dalam percontohannya, ia menempelkan teks pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Dan, mengejutkannya, hasil AI detector nyaris 80 % lebih tulisan UUD 1945 terindikasi buatan AI.
Bayangkan, angka ini bukan angka kecil, lho. Angka segini harus dipertanggungjawabkan. Apa zaman Boeng Karno ada Chat GPT? Tak perlu bertanya ada atau tidak Chat GPT kala itu, handphone sendiri sudah ada atau belum?
Di titik ini lah menurut saya kita perlu jujur. Parafrase berulang-ulang demi mengelabui detektor bukanlah solusi ilmiah, itu hanya kosmetik akademik.
Jika substansi masih sama, ide masih sama, pemahaman tidak berubah, lalu apa bedanya? Kita sibuk membersihkan jejak, bukan memastikan makna. Padahal inti pendidikan tinggi bukan pada siapa yang mengetik kalimat, tetapi siapa yang memahami isinya dengan baik dan paripurna.
Mahasiswa yang menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir, lalu mampu menjelaskan, mempertahankan, dan mengelaborasi gagasannya, menurut saya izin, ya saya kira sah-sah saja.
Yang bermasalah bukan pada penggunaan AI, melainkan pada ketidaktahuan dan kemalasan intelektual. AI seharusnya diuji lewat dialog, presentasi, dan diskusi, bukan hanya lewat skor detektor yang bahkan pembuatnya sendiri sering ragu pada akurasinya.
Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah maraknya tuduhan bahwa hampir semua karya tulis hari ini adalah hasil AI. Esai, opini, artikel blog, bahkan puisi, kerap dicurigai hanya karena bahasanya mengalir dan strukturnya rapi.
Seolah-olah manusia tak lagi diberi ruang untuk menulis dengan baik, pokoknya manusia harus salah dalam menyajikan karyanya.. Di sini persoalannya bukan teknologi, tapi psikologi manusia yang merasa terancam. Iya, nggak?
Dalam psikologi sosial, ada konsep yang dikenal sebagai projection, kecenderungan seseorang menuduhkan apa yang ada dalam dirinya kepada orang lain.
Orang yang terbiasa menggunakan AI untuk menulis akan lebih peka, bahkan terlalu peka, melihat pola AI di tulisan orang lain. Logikanya sederhana, seseorang tahu harimau karena ia pernah melihat harimau. Iya atau tidak?
Ada juga disitu bias kognitif yang bekerja, terutama availability heuristic. Ketika narasi tentang AI begitu sering muncul, otak manusia akan lebih mudah mengaitkan segala sesuatu dengan AI, termasuk karya yang sebenarnya lahir dari proses panjang menulis dan berpikir.
Ditambah lagi efek dari yang dinamakan dengan Dunning-Kruger, di mana orang dengan pemahaman terbatas justru merasa paling yakin dalam menilai. Ia tidak membaca secara mendalam, tidak menguji argumen, tapi langsung menempelkan label. Tuduhan menjadi jalan pintas untuk menutupi ketidakmampuan mengkritik isi. Hayoo, Lho.
Bagi penulis yang masih setia menulis, baik di blog, jurnal, maupun media lain, tuduhan semacam ini melelahkan, dan, tentu menyakitkan. Ini adalah badai fitnah yang timbul atas kehadiran mesin yang mesin itu tidak semua orang pakai dan menginginkannya.
Bukan karena takut ketahuan, tapi karena kerja intelektual direduksi menjadi soal alat. Padahal menulis adalah soal sudut pandang, pengalaman, dan kejujuran berpikir.
AI bisa meniru struktur, tapi ia tidak hidup dalam pengalaman, tidak punya kegelisahan personal, tidak menanggung konsekuensi moral dari tulisannya.
Pada akhirnya, perdebatan soal AI, orisinalitas, dan tuduh-menuduh ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal kedewasaan berpikir.
Kita hidup di zaman ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan penggunanya.
Alih-alih sibuk memburu jejak mesin di setiap paragraf, mestinya kita kembali ke pertanyaan paling mendasar, apakah gagasan itu dipahami, dipertanggungjawabkan, dan memberi makna?
Pendidikan dan dunia kepenulisan tidak akan runtuh hanya karena AI hadir, yang bisa meruntuhkan justru budaya curiga, malas membaca, dan enggan berdialog.
Jika kita terus memelihara ketakutan, kita akan kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, ilmu pengetahuan tak lagi bergerak maju, ia hanya berjalan di tempat, sambil saling menuding, tanpa pernah benar-benar memahami.
Tinggalkan Balasan