Menjelang kepulangan ke Bandung, pagi itu saya duduk santai di teras rumah nenek. Tidak ada agenda besar, tidak ada percakapan penting juga kala itu.
Hanya tubuh yang akhirnya diam setelah beberapa jam yang lalu bergerak di tengah keramaian dan megahnya lantunan sholawat di At-Taqwa. Ditemani segelas teh manis hangat dan gorengan, bagwan (Bala-bala kalo di Bandung) dan tempe mendoan.
Hujan tiada lah turun,, hanya matahari yang tampak malu-malu mengintip dari balik dedaunan pohon. Pagi merambat pelan, dan waktu seperti sengaja memberi jeda untuk saya menikmati pagi itu.
Di saat seperti itu, ingatan sering kali datang tanpa diundang.
Pikiran saya tiba-tiba melompat jauh ke masa kecil. Ke satu bentuk kesenian yang dulu saya nikmati tanpa pernah benar-benar saya pahami secara konseptual. Kesenian itu bernama wangsalan.
Wangsalan dan Masa Kecil
Dulu, saya sering diajak menonton pertunjukan tarling. Kadang oleh kakek, kadang oleh nenek. Saya ingat betul suasananya, panggung sederhana, suara musik tarling yang khas, dan syair-syair wangsalan yang terdengar ringan tapi diam-diam menyimpan makna.
Saat itu saya hanya menikmati nadanya, tertawa ketika penonton tertawa, dan ikut terhanyut tanpa sadar sedang menyerap sebuah warisan budaya.
Baru sekarang saya paham, bahwa wangsalan atau tarling bukan sekadar hiburan. Ia adalah syair. Puisi. Sindiran halus. Lelucon yang cerdas. Bahkan sering kali menjadi media dakwah.
Wangsalan bisa dibacakan, bisa pula dinyanyikan. Ia hidup di lisan, di telinga, dan di rasa yang menggema di hati.
Keindahannya terletak pada tata bahasa. Ada pola yang konsisten, tapi tidak kaku. Ujung barisnya bisa sama, misalnya berakhiran “an”, dua, tiga, bahkan empat baris berturut-turut berikutnya an juga. Anehya, tapi itu tidak merusak maknanya. Justru di situlah seninya. Bahasa dipaksa patuh pada irama, tapi makna tetap utuh, bahkan semakin kuat.
Ya, itu karena persepsi wangsalan saat ini berupa pantun atau memiliki rima yang sama dalam penyajiannya
Coba saja kalian dengarkan lagu-lagu tarling dengan saksama. Di sana wangsalan hidup, bernafas, dan membuktikan bahwa bahasa daerah tidak pernah miskin estetika.
Menulis Wangsalan
Sebagai seseorang yang gemar menulis dan menikmati syair, pagi itu saya terdorong untuk menulis sebuah wangsalan. Tidak panjang. Tidak pula dibuat dengan ambisi pamer kemampuan. Ia lahir begitu saja, dari perasaan kagum, nostalgia, dan rasa hormat pada seni yang membesarkan saya tanpa saya sadari.
Saya menuliskannya seperti ini:
Srengenge sing wetan wis katon,
sedurunge teka ngulon,
gagea tangi sing peturon,
gagea tinemu ning pangkon.
Selamat pagi Cirebon.
Di ujungnya, saya sengaja menyelipkan ucapan selamat pagi dalam bahasa Indonesia. Sebagai penanda zaman. Sebagai pengakuan jujur bahwa saya menulis dari masa kini, tapi dengan rasa bangga pada seni yang lahir dari tanah Cirebon.
Makna yang Diselipkan dalam Syair
Secara sederhana, maknanya begini. Matahari dari timur sudah terbit, segera lah bangkit dari tempat tidurmu, jangan tunggu ia sampai ke barat. Itu bukan sekadar soal pagi dan sore. Itu peringatan tentang waktu. Tentang hidup.
Bangkitlah dari tempat tidur. Bergeraklah. Temui masa depanmu yang sedang menunggu untuk direngkuh. Pangkon di sini bukan dimaknai harfiah, melainkan simbol dari tempat tujuan, ruang pengabdian, dan ladang kehidupan masing-masing orang.
Yang menjadi guru, jalankan tugasmu. Yang menjadi akademisi dan peneliti, teruslah berpikir dan mencari kebenaran. Yang berdagang, jujurlah dan bergerak. Yang menulis, jangan berhenti menyuarakan kegelisahan. Apa pun peran kita, jangan menunggu matahari condong ke barat.
Pesan di syair saya ini sederhana tapi tegas. Jangan menunda hidup. Jangan menunggu usia semakin senja baru sadar bahwa waktu tidak bisa diputar ulang. Disini, yang utama adalah ibadah. Jangan tunggu usia tertentu untuk mulai melakukan ibadah, apa lagi ibadahnya wajib.
Bergeraklah sekarang. Bukan cuma karena kamu masih muda, tapi karena kamu sadar sudah waktunya bergerak.
Dah lah ya gitu aja. Udah mulai pegel nih.
Tinggalkan Balasan