Catatan Refleksi, Sebuah Keperihatinan Atas Kemunduran Generasi Masa Kini

Bagikan ke

Assalaamu’alaykum. Pagi ini, saya menjumpai matahari seperti biasa. Saya paksa tubuh dan kaki saya bergerak, melaksanakan kegiatan rutin setiap jum’at pagi.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kareana cuma Jawa Barat dan kamyuu yang istimewa. Hehehe.

Ah, lupakan lah soal aktifitas saya ini. Mari saya tunjukan sebuah fakta yang menurut saya, ini memperihatinkan. Sangat memperihatin kan sekali.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, merendahkan, atau menyudutkan kelompok, generasi, maupun individu tertentu.

Apa yang saya tuliskan lahir dari kegelisahan pribadi dan hasil pengamatan sehari-hari, yang sangat mungkin berbeda dengan pengalaman orang lain, dan ini murni hanya diperuntukan sebagai refleksi dari realita yang terjadi saat ini.

Jika terdapat pandangan yang berbeda, hal tersebut adalah hal yang wajar dan lumrah terjadi. Saya berharap siapa pun dapat menyikapinya sebagai bahan renungan bersama saja, bukan sebagai pemicu perdebatan atau pertentangan, yaa..

Jadi, Beberapa waktu terakhir saya merenungi sebuah pemikiran yang mungkin diluar sana ada yang menaruh perhatian ke sana juga, dan jujur, saya bingung.

Ada dilematis yang terjadi disini. Di satu sisi, dunia kini benar-benar berada dalam genggaman.

Jarak dan waktu nyaris tak lagi menjadi penghalang berkat teknologi. Informasi tersedia di mana-mana, kapan saja.

Namun anehnya, di saat yang sama, saya justru melihat kemunduran kemampuan dalam berpikir pada generasi masa kini.

Kemunduran yang saya maksud disini bukan soal gagap teknologi atau gaptek, ya. Kalo soal teknologi, beuh itu banyak yang jago, lah

Baca juga:  Jernihkan Pikiran, Sikapi Perbedaan Secara Elegan Menghadapi Ramadhan

Masalahnya muncul ketika teknologi hanya berhenti sebagai alat hiburan saja, bukan sebagai pintu masuk pengetahuan. Dunia digenggam, tapi isinya tidak benar-benar dipahami.

Banyak sekaarang, yang edit video jedak-jeduk masih bisa, tapi, giliran buat cari jurnal nggak bisa. Sekedar masuk sinta aja masih tanya, gimana caranya?

Banyak sekarang, yang upload video, skrol video di tiktok, instagram, dll bisa, tapi akademiknya, sorry to say, belum kuat. Saya mengatakannya belum ya, disitu diharapkan kata belum itu hilang, dan tersisa kata kuat, dan, hilang lah keperihatinan itu.

Hilangnya Nalar Kritis

Di titik ini, sebetulnya masalahnya bukan sekadar kurang informasi, tapi melemahnya nalar kritis.

Banyak yang terbiasa menerima, tapi tidak terbiasa mempertanyakan dengan benar. Ironisnya, ketika sikap kritis itu muncul, justru sering diarahkan ke hal-hal yang sepele. Hal mendasar yang seharusnya bisa dicari sendiri malah ditanyakan ulang, sementara persoalan yang lebih substansial dibiarkan menguap dan dilewati begitu saja.

Bertanya memang penting yaa, tapi nalar kritis bukan cuma pada bagaimana bertanya. Ia menuntut usaha mencari, membaca, dan memahami sebelum mengajukan pertanyaan.

Beberapa Contoh nyata, Saya pernah benar-benar terdiam ketika mendengar pertanyaan, Disadap itu diapain, sih? Fundamental itu maksudnya apa, sih?

Bahkan, ada yangg nggak tahu pejabat daerah dimana dia tinggal. Siapa wali kotanya, saiapa gubernurnya.

Yaa Allah. Saya sedih, kecewa, kenapa bisa sampe jadi begini? Saya perihatin dengan ini semuaa.

Ini Pertanyaan sederhana, tapi jujur saja, menampar, ya..

Bukan karena bertanya itu salah, tapi karena istilah yang begitu sering muncul di berita, diskusi publik, bahkan obrolan sehari-hari, ternyata masih terdengar asing bagi mungkin, banyak orang, karena bukan satu atau dua orang yang bertanya seperti itu.

Baca juga:  PTN VS PTS, Gengsi Atau Pilihan Rasional?

Kalo yang bertanya sekelas emak saya, nenek saya, kakek saya, wajar, lah. Ini, anak muda, lho. Padahal istilah-istilah semacam ini mudah didapatkan, walau dengan katakan lah AI atau spesifiknya Chat GPT.

Disini saya mikir, sebenernya masalahnya disini bukan adanya kebodohan, atau kebodohan yang diakibatkan karena kurangnya asupan gizi. Ini soal mau dan tidak, menurut saya.

Kurangnya Minat Baca

Ini soal kebiasaan. Soal kemauan untuk membaca, karena disini kita harus tegas, ungkapan membaca adalah jendela dunia, itu benar adanya.

Meski hanya satu atau dua paragraf berita, itu juga berarti lho menurut saya.

Dengan membaca, akan hadir wawasan baru. Kita akan menemukan berbagai istilah seperti tadi itu sadap, fundamental, dll kalo kita penasaran kita bisa searching apa maknanya.

Adab Juga Ikut Terkikis

Lebih miris lagi, bukan hanya wawasan umum yang menipis, dalam beberapa kasus, adab atau etika juga ikut terkikis.

Cara berbicara, cara menyanggah, cara berbeda pendapat. Semua serba reaktif, serba cepat, tapi minim kedalaman. Emosi didahulukan, nalar belakangan.

Padahal ilmu, baik ilmu dunia maupun agama, selalu menuntut ketenangan dan proses berpikir yang baik.

Keprihatinan saya ini bukan untuk menyalahkan satu generasi, ya.

Ini lebih pada ajakan untuk yuk, sadar. Bahwa teknologi seharusnya memperluas wawasan, bukan justru mempersempit cara berpikir.

Baca juga:  HUT Kemerdekaan Itu Bukan Dirayakan, Ini 5 Pilar Pemaknaannya

Bahwa menggenggam dunia berarti juga berusaha untuk memahami isinya, bukan sekadar menikmati permukaannya saja.

Dan sebenernya, perubahan itu tidak harus dimulai dari hal besar. Nggak harus, kok, kita baca buku tebal. Baca tulisan di blog saya juga nggak apa-apa. Hehehe.

Coba awali dari satu keputusan sederhana hari ini, membaca sebelum menonton, berpikir sebelum berbicara, dan belajar sebelum merasa paling tahu.

Sudah, segitu saja. Simple, kok.

Penutup

Pada akhirnya, jika kita tarik ke akar paling dalam, inti dari semua kegelisahan ini bermuara pada satu hal yang sederhana tapi krusial, yaitu rendahnya minat membaca.

Bukan semata soal tidak cerdas, bukan juga karena kurang akses, sebab hari ini akses ada di mana-mana.

Yang sering hilang justru kemauan untuk berhenti sejenak dari hiburan, lalu beralih dengan cara membaca, dan memahami sebuah karya tulisan.

Ketika membaca ditinggalkan, nalar ikut melemah, wawasan menyempit, dan istilah sesederhana apa pun terasa asing.

Padahal, tidak selalu harus buku tebal atau jurnal berat. Satu berita, satu tulisan, bahkan satu paragraf yang dibaca dengan sungguh-sungguh sudah cukup untuk melatih cara berpikir lho.

Jika kebiasaan membaca kembali dihidupkan, perlahan keprihatinan ini akan memudar dengan sendirinya, percaya, deh.

Bagikan ke
Avatar Dwi Citolaksono
Seseorang yang gemar menulis di blog, sekedar menulis opini atau mengurai makna dengan kata. Mahasiswa S-1 Pendidikan luar biasa di salahsatu universitas di Bandung, yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Memiliki kepedulian kepada disabilitas netra, dan memiliki ketertarikan terhadap teknologi

Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe Newsletter Via WhatsApp

Masukkan nama lengkap anda dan nomor WhatsApp aktif untuk menerima pemberitahuan postingan terbaru, yang akan secara langsung saya kirim kan via WhatsApp